Google search engine
HomeEditorialSangkaan Buruk Terhadap Pekerja Pers di Natuna

Sangkaan Buruk Terhadap Pekerja Pers di Natuna

Oleh: Amran, Pemimpin Redaksi Koranperbatasan.com

SAYA TERKEJUT! Mendengar cerita seseorang. Pekerja pers di daerah ini diibaratkan orang lapar. Lalu mengambil nasi dalam rice cooker. Menutupnya setelah kenyang. Dan, membukanya kembali ketika lapar. Ada-ada saja. Mungkin mereka memang suka berburuk sangka. 

Pukul 08.15 Wib pagi itu, Herman tidak buru-buru. Dengan santai ia mematikan mesin motor dan memarkirkannya di depan Kedai Kopi Ayong. Teh jahe panas minuman kesukaanya memang belum dipesan. Begitu juga dengan Riky, pewarta muda yang terbilang enerjik, hadir di kedai ini. Tersenyum si Manalu menyimak jerit.

Kedai Kopi Ayong memang sudah menjadi semacam pangkalan. Tempat berkumpulnya para kuli tinta yang bertugas di daerah maritim kepulauan. Sebuah kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau yang terkenal kaya akan potensi perikanan, namun sayang belum terkelola maksimal.

Seperti biasa, hampir setiap hari, baik sebelum maupun setelah melakukan aktifitas mencari informasi untuk diolah menjadi berita. Salah satu meja panjang di bagian depan Kedai Kopi Ayong itu, penuh pewarta.

Duduk satu meja dengan beragam pemikiran. Tak ada tema khusus yang dibahas. Karena memang meja terbuka ini bukan tempatnya membahas hal-hal keredaksian. Ada yang diam membisu, namun jemarinya terlihat lincah menari, merangkai huruf demi huruf, menekan papan tombol telepon genggam android.

Ada pula yang terlihat asik ngobrol berdua. Ada juga yang berbicara pelan dan semakin pelan, melalui telepon. Bahkan ada juga yang tertawa dan terus tertawa, entah apa yang membuatnya lucu, namun tak ada yang merasa terganggu.

Begitulah potret sebagian wartawan di perbatasan negeri ini. Yang sebenarnya hanya punya sedikit waktu untuk bisa berkumpul, bercerita dan tertawa ria bersama keluarga tercinta di rumah. Terlihat santai dan menyenangkan, namun kesibukan para pemburu informasi ini jarang diketahui.

Duduk sambil menikmati asap tembakau dan bergelas-gela kopi, adalah salah satu cara wartawan bekerja mengumpul dan mengolah informasi. Tapi sayangnya disebut tidak berkontribusi untuk daerah ini. Bahkan ada yang mendiskriminasi dengan menyebut “enak jadi wartawan duduk ngopi dapat piti.”

Anggapan-anggapan itu, sepertinya sudah tak asing lagi bagi pekerja pers. Meski terasa pahit, namun tetap santun membalasnya dengan senyuman. Anehnya lagi, sempat-sempat ada yang beranggapan, wartawan duduk di kedai kopi tinggal pesan lalu pergi sesuka hati, karena sudah ada yang membayar. Sungguh, saya benar-benar terkejut!

Ada juga yang menganggap pekerjaan menjadi wartawan memilki banyak waktu luang. Padahal setiap menit, bahkan hampir setiap detik, informasi selalu saja datang mengusik. Memanggil mereka untuk segera melakukan peliputan, agar nanti informasi yang diolah menjadi berita dapat disajikan sesuai fakta di lapangan.

Hari ini, Rabu, 09 Februari 2022, Hari Pers Nasional. Alhamdulillah. Sedikit waktu dapat kami ‘curi’ buat berbagi cerita dan bertukar fikiran. Tentang ‘tuah laut’ yang terlihat seperti tak lagi mampu berdiri menghidupkan umatnya, karena secara terus menerus ia “dicuri.”

Belum lagi penilaian-penilaian negatif di medsos seperti facebook tanpa menguji kebenaran tumbuh subur. Dengan mudah menyebut pekerja pers di daerah ini (Natuna) tak profesional, tak berbobot, penakut, pengecut dan bungkam. Padahal dari sumbangsih karya tulis jurnalistik yang mereka-meraka anggap bungkam, penakut dan pengecut inilah Natuna mendunia.

Tapi tak apalah! meski tak dianggap namun kami akan tetap selalu ada di sudut mana-mana saja. Karena memang kami sudah lama telanjur ada di negeri ini. Sepanjang kehidupan ini masih ada, dan nafas kami masih berhembus. Meskipun kami tidak pernah ada dalam kebijakan-kebijakan yang terus ada-ada saja, dibahas setiap harinya.

Kawan, abaikan saja celoteh mereka yang berburuk sangka. Teruskan diskusi untuk pembangunan daerah ini. Tetaplah berkarya. Menyuarakan aspirasi untuk demokrasi. Walau memang kita tidak pernah ada dalam “daftar.” Layaknya mereka, yang konon disebut “abdi.”

Bersama kita tegakkan pilar keempat demokrasi. Merekam fakta-fakta. Merangkai kata. Walaupun pasti terhadang derita. Itulah ladang amal kita. Menjadi spirit generasi bangsa setelah kita tiada. Sampai akhir menutup mata. (*)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments