Google search engine
HomeObrolanKatakan Kepri, Bukan… (Surat Terbuka untuk Ansar Ahmad)

Katakan Kepri, Bukan… (Surat Terbuka untuk Ansar Ahmad)

Oleh: Cak Wit

PEMBACA jangan terkejut dulu dengan judul opini ini yang saya tulis ini. Tak ada maksud apa-apa. Opini ini semata-mata pemikiran saya pribadi yang tulis dalam rangkaian strategi promosi dan pemasaran pariwisata di Provinsi Kepulauan Riau.

Mohon maaf jika pembaca tidak berkenan dengan judul itu. Tapi bacalah secara utuh sebelum berkomentar.

Sebagai masyarakat biasa saya sering mendiskusikan perihal strategi promosi dan pemasaran pariwisata di Provinsi Kepulauan Riau dengan pelbagai kalangan. Apa yang harus dijadikan branding (identitas atau kekhasan) supaya menancap di benak banyak orang.

Jawaban yang saya terima sama” “Pariwisata Kepulauan Riau perlu branding. Cukup katakan KEPRI bukan KEPULAUAN RIAU. Nama KEPULAUAN RIAU itu terlampau panjang untuk dijadikan branding. KEPRI tampaknya lebih cocok jadi branding dibandingkan KEPULAUAN RIAU.”

Saya setuju dengan pendapat itu. Dari perspektif pariwisata, sejak 2011 Kepala Dinas Pariwisata Kepri waktu itu Guntur Sakti sudah mulai menancapkan nama KEPRI kebanyak benak orang sebagai strategi pengembangan pariwisata. Maka 2012 munculah branding pariwisata “wonderful Kepri.”

Waktu itu nama KEPRI, kata Guntur, istiqomah digunakan dalam strategi promosi dan pemasaran pariwisata dalam berbagai diplomasi dan brand actifiti. Sebaliknya nama KEPULAUAN RIAU istiqomah digunakan dalam kontek penyelenggaraan pemerintahan.

Dari perspektif pariwisata nama “KEPULAUAN RIAU” memang kurang “menjual” dibandingkan dengan nama “KEPRI“ yang merupakan singkatan dari Kepulauan Riau.

Nama Kepulauan Riau terlampau panjang untuk dijadikan branding. Setakad ini juga nama Kepulauan Riau masih juga sering salah sebut jadi Riau Kepulauan.

Saya sendiri masih menyebut nama Kupulauan Riau menjadi Riau Kepulauan. Mungkin juga sebagian Anda. Aneh tapi nyata, tapi itulah realitas yang sering saya dengar.

Terlepas dari nama tersebut, sebagai anak daerah, saya menyadari betul pentingnya sebuah branding untuk strategi dan promosi pemasaran pariwisata jika kita ingin meyaingi tetangga kita Singapura, Thailand atau Malaysia.

Sebelum Kepulauan Riau resmi berdiri menjadi provinsi pada 2011, Kepulauan Riau merupakan salah satu daerah tingkat II (kabupaten) di Provinsi Riau dengan Ibu kotanya Tanjungpinang.

Kerancuan penyebutan disebabkan ada kata Riau di belakang nama Kepulauan. Lain halnya dengan nama provinsi di Indonesia yang awalan katanya sama tapi akhirannya berbeda. Sehingga tidak menimbulkan kerancuan dalam penyebutannya.

Sebut saja nama provinsi di Pulau Sulawesi, Jawa, Sumatera, dan Kalimatan. Orang tidak pernah rancu menyebut nama Provinsi Kalimatan Utara atau Kalimantan Barat. Begitu juga ketika orang menyebut nama Provinsi Sulawesi Utara atau Sulawei Barat. Karena awalan katanya sama tapi akhirannya berbeda.

Kerancuan yang sering membuat salah alamat penulisan akhiran kata juga terjadi antara Tanjungpinang dan Pangkalpinang. Pengalaman unik pernah dialami Sudarmoko, GM Hotel Comport Tanjungpinang.

Ketika mereka mengundang artis Ibu kota Zaskia dan Shiren Sungkar untuk mengisi acara di hotelnya, Moko–panggilan akrab Sudarmoko–, dan jajaran sudah menunggu kedatangan kedua artis kakak beradik tersebut di Banda Udara Raja Haji Fisabillillah, Tanjungpinang.

Kata Fany Beauty ––orang tua sekaligus manager kedua artis cantik berhijab tersebut–kedua artis sudah mendarat.

Moko mengaku penasaran karena ia sudah menunggu sejak tadi di Bandara tapi tak melihat wajah sang artis. Akhirnya kepada manager artis tersebut Moko menyampaikan coba cek mendaratnya: di Pangkalpinang atau ………..

Benar saja. Rupanya mereka sadar mendarat di PANGKALPINANG bukan di TANJUNGPINANG.

Disebabkan oleh persoalan yang sepele tersebut, fans fanatik kedua artis yang sudah terlanjur membeli tiket ngamuk kepada panitia. Untunglah kedua artis yang ditunggu tersebut datang kendati waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Akhirnya fans yang tadinya marah-marah terobati juga hatinya.

Pengalaman unik tersebut juga pernah dialami Juramadi Esram. Waktu menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, ia melakukan roadshow di Pangkalpinang.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Pangkalpinang, Drs. Ahmad Elvian mengatakan nama Tanjungpinang dan Pangkalpinang secara literatur memang beda tapi juga membingungkan.

Dari segi pemasaran promosi wisata kebingungan ini bisa menjadi tantangan. Sekarang bagimana kita mengolahnya jadi peluang yang luar biasa bagi Tanjungpinang dan Pangkalpinang.

Promosi justrunya menjadi sesuatu kuat dalam mempromosikan Tanjungpinang bukan Pangkalpinang dan Pangkalpinang bukan Tanjungpinang. Hal ini juga menarik orang untuk membuka literature di mana Pangkalpinang dan Tanjungpinang.

Seorang penulis, penyair, dramawan, dan actor terkemuka dari Inggris, William Shakaspare (1564 – 1666) mengatakan, “what’s in a name (apalah arti sebuah nama).

Ternyata dalam perkembangan zaman nama itu terkadang jadi masalah.

Sekarang bagaimana kita menyikapinya.

Saya berharap Gubernur Kepri Ansar Ahmad istiqomah menggunakan kata KEPRI yang dipakai sejak 2012 untuk strategi promosi dan pemasaran pariwisata. Sedangkan KEPULAUAN RIAU istiqomah dipakai dalam kontek penyelenggaraan pemerintahan. (*)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments